Syekh Ali Jaber, Dari Madinah Menjadi WNI Syiarkan Islam di Indonesia

- 14 September 2020, 10:13 WIB
Syekh Ali Jaber /Syekh Ali Jaber/

 

POJOKNEWS - Nama Syekh Ali Jaber langsung menjadi perbincangan hangat di dunia maya maupun dunia nyata. Pemicunya adalah aksi penusukan yang dilakukan seorang pemuda kepada ulama kharismatis ini.

Kejadian berlangsung saat Syekh Ali Jaber menghadiri pengajian dan wisuda Tahfidz Alquran di Masjid Falahudin yang berada di Jalan Tamin, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Minggu (13/9/2020).

Ali Jaber menderita luka tusuk di bahu dan menerima enam jahitan di bagian dalam dan empat jahitan di bagian luar. Sementara pelau yang berinisial AA (22) berhasil diamankan massa jemaah dan diserahkan ke kepolisian.

Penusukan pada Syekh Ali Jaber cukup mencengangkan masyarakat. Pasalnya, ulama berpenampilan khas dengan gamis dan sorban ala Arab ini adalah ulama yang beraura teduh. Dalam setiap ceramahnya, Syekh Ali Jaber menyampaikan dengan lemah lembut.

Perjalanan Syekh Ali Jaber sebagai ulama di Indonesia juga penuh dengan karomah. Beliau meninggalkan negerinya di Arab Saudi untuk meramaikan syiar Islam di Nusantara. Tak hanya itu, pria berjanggut tebal ini memilih untuk menjadi warga negara Indonesia (WNI).

Sosok Kelahiran Madinah, 3 Februari 1976 ini langsung mendapat perhatian masyarakat kala menjadi juri Hafiz Indonesia di sebuah televisi. Dia juga menjadi penceramah dalam berbagai kajian di sejumlah stasiun televisi nasional. Syekh Ali Jaber juga sempat bermain dalam film Surga Menanti.

Ulama kharismatis ini lahir dalam keluarga amat religius di Madinah. Di Madinah keluarga ini memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari 12 bersaudara, Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam.

Karena itu, sejak kecil Ali Jaber telah menekuni hapalan Al-Quran. Ayahnya menjadi sosok yang menempa Ali Jaber untuk belajar Al-Quran. Didikan keras ayahnya akhirnya meluluhkan hati Ali Jaber kecil bahwa mempelajari Al-Quran adalah sebuah kebutuhan. Hasilnya luar biasa, pada usia 11 tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Quran. (***)

Editor: Amir Hamzah


Komentar

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

X